Interview: Salam Rindu Arina Ephipania

Written by Bayu Seno Aji on . Posted in Interview, LifeStyle

Image courtesy of Mocca

Istirahat adalah sebuah keputusan besar yang diambil Mocca.  Sebuah keputusan yang sangat berat, tetapi memang sudah dipikirkan secara bijak oleh grup band asal bandung ini. Arina Ephipania memutuskan untuk menikah dan hijrah ke negeri paman sam bersama suaminya, sedangan Indra Massad berkutat dengan project interior, Ahmad Pratama fokus di dunia marketing dan Riko prayitno mempunyai project musik dengan The Triangle. Istirahat sejenak dari rutinitas yang selalu dikerjakan sejak 2009, membuka peluang baru karena mereka percaya akan ada perubahan dan pengalaman yang lebih menantang.

FBI Bali Radio menyapa salah satu personel Mocca, Arina. Kami mengirim email dan meminta si perempuan manis ini untuk menjawab pertanyaan–pertanyaan dari kami. Arina pun merekam suaranya dan sudah mengudara di 91,8 FM FBI Bali Radio. Inilah salam rindu dari Arina untuk kamu, hey Swinging Friends!

1.  Hello Arina, hari ini kamu berwarna apa?

Halo semua yang ada disana hahahaha, dan hari ini saya berwarna kuning muda.

2.  Setelah memutuskan untuk menikah dan tinggal di Amerika, adakah kendala untuk berkarya dengan Mocca?

Setelah saya memutuskan untuk menikah dan tinggal di Amerika, tentu saja ada kendala untuk berkarier dengan Mocca. Diantaranya rumah saya disini tidak ada koneksi internetnya, jadi agak sulit untuk melakukan hubungan jarak jauh, apalagi antar benua. Sebenarnya alasannya karena suami saya itu mengontrak sebuah studio rekaman di L.A. Dan akhirnya dia memboyong semua peralatan kesana termasuk komputer dan lain lain,  ini sudah dimulai beberapa bulan sebelum kami menikah. Jadi dulu jaman pacaran, semua fasilitasnya lengkap, tetapi setelah menikah semuanya hilang. Jadinya saya sekarang harus bertahan dengan keadaan tanpa internet. Saya hanya mempunyai sebuah handphone yang membantu saya untuk komunikasi sana sini, termasuk dengan wawancara ini ya hanya dengan modal hp itu aja. Jadi sampai saat ini banyak sekali kendalanya.

3.  Jadi, apakah kalian masih berkarya walaupun hubungan kamu dengan teman-teman Mocca statusnya LDR?

Berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya, sampai saat ini belum ada karya yang muncul.

4.  Oh ya, denger-denger suami kamu juga suka main musik, ada keinginan untuk membuat project dengan suami Arina?

Iya, betul sekali. Suami saya suka main musik juga, keinginan untuk membuat suatu project bareng tentu saja ada, cuman untuk waktunya sayang sekali belum. Beliau sudah membuat beberapa sketsa lagu-lagu sih, saya juga udah ngisi vokalnya juga, cuman ya projectnya emang bener-bener iseng, jadi belum ada kemajuan juga. Karena waktu luang kami bisanya hanya weekend, biasanya kami isi dengan kegiatan jalan-jalan dan yang rekreatif gitu, karena dari senin sampai jumat beliau kerja, pekerjaan utamanya bukan di bidang musik. Beliau sih bukan profesional main musiknya, hanya sekedar suka-suka gitu, sementara saya kan memang hidupnya hanya tahu nyanyi doang gitu. Ya sampai sekarang sih belum ada kemajuan.

5.  Selama di Arina, apakah kamu masih aktif untuk menulis lirik atau membuat lagu? Jika iya, beri bocoran dong, lirik atau lagu yang sudah kamu buat!

Sayang sekali belum. Selama di Amerika saya sama sekali tidak produktif, saya terlalu banyak memikirkan kampung halaman nih kayaknya, homesick yang berkelanjutan dan saya tidak tahu sembuhnya kapan. Terus terang saya disini sedang berusaha menyesuaikan diri dulu, berusaha mencari apa yang saya suka dan saya senang. Saya sangat tidak terinspirasi melakukan hal-hal di bidang musik untuk sementara ini, memang jawaban yang mengecewakan, maaf ya tapi begitu adanya.

6.   Ada rencana apa kamu dan mocca kedepannya?

Terus terang saya tidak tahu, soalnya segala hal yang saya perlukan untuk melakukan itu lewat jarak yang sangat jauh ini belum ada, yaitu internet. Saya tahu itu amat sangat penting, tapi keadaannya belum memungkinkan. Jadi saya harus bersabar dan berdoa semoga bulan depan sudah ada internet di rumah. Saya tahu mungkin kalian akan bilang, “Ya ampun sudah di Amerika, tapi kenapa kamu seperti hidup di jaman batu?”

Ya saya juga tahu, dulu di bandung kayaknya gampang banget ngedapetin hot spot, disini saya harus jalan ke supermarket terdekat yang jaraknya 1,5 km, mungkin saya bisa dapat wi-fi disana, cuman di luar terlalu dingin dan saya kalau melakukan hal-hal musikal kayaknya agak tolol juga ya, bawa-bawa laptop ke dalam supermarket, ah sudahlah, lupakan!

Jadi untuk kedepannya, saya berharap untuk segera pulang ke indonesia, karena jarak jauh ini membuat apa ya? Aduh kendalanya banyak deh kalau untuk buat project sama Mocca. Jadi tunggu saja sampai internet terpasang yah, nanti jawabannya baru ada, kalau sekarang saya belum tahu apa-apa. Maafkan ya.

 7.  Apakah kamu tidak merindukan tour dengan mocca?

Aduh, tentu saja saya rinduuuuu, saya rindu sekali ya ampuuuuuuuuun, tentu saja saya sangat merindukan, gila apa?

8.   Bagaimana perbedaan sebelum dan sesudah menikah yang kamu rasakan sekarang?

Yang saya rasakan banyak sekali perbedaan, karena segala sesuatu yang saya tahu selama saya di Indonesia, setelah sampai di Amerika, segalanya musnah tidak ada. Saya disini harus benar-benar belajar dari nol, bahkan hal-hal terkecil seperti misalnya suhu. Suhu disini pakai Fahreinheit, saya biasanya pakai celcius, saya biasanya tahu sistem metriks, seperti centimeter, mililiter, liter, disini tiba-tiba menjadi Quart, Inch, yard dan  selanjutnya. Saya benar-benar merasa seperti orang paling bodoh semenjak saya menginjakkan kaki di Amerika karena saya benar-benar merasa tidak tahu apa-apa.

Jadi yang berbeda sejak saya disini adalah saya benar-benar belum tahu cara mengungkapkan dalam bentuk kata-kata, saking semuanya benar-benar tidak sama. Yang jelas saya merasa menjadi orang yang sangat berbeda disini, karena saya hanya sendirian, saya tidak tahu harus berpaling kemana, teman masih nyari, suhu terlalu dingin kadang-kadang membuat otak saya terlalu mampet. Aduh kenapa saya begitu lemah kenapa saya tidak begitu kuat dengan cuaca ini?  biasanya santai-santai saja. Sekarang saya jadi males olahraga lah, saya sekarang sedang berusaha mengembalikan diri saya menjadi seperti yang dulu. Arina yang selalu ceria dan optimis. Terus terang sejak saya menikah. Saya… aduh jawabnya nggak enak euy. Untung suami saya belum mengerti bahasa Indonesia nih, cuman… aduh, gimana ya?

 9.  Apakah kamu akan selamanya tinggal di Amerika?

Ini bisa saya jawab dengan sangat singkat, saya jawab dengan tegas, Tidaaaaaaaaaak! Gila apa?  Saya sih tidak mau tinggal disini selamanya, saya orang Indonesia, saya lahir di Indonesia, dan saya ingin mati di Indonesia. Jadi saya tidak ada keinginan sama sekali untuk tinggal di Amerika terlalu lama, karena saya hanya ingin sekedar dekat dengan suami saya dan saya merasa itu kewajiban istri, jadi ya itu yang saya lakukan sekarang. Misalnya, saya dapat kesempatan untuk bisa balik ke Indonesia lagi, wah saya nggak akan mikir dua kali. Jadinya langsung hajar bleh!

Hmm, mungkin banyak yang berpikir, apa sih susahnya sih? Udah tinggal di luar negeri, udah punya suami, udah ada yang nanggung gitu. Aduh, untuk pindah ke satu negara lain itu buat saya sangat amat berat. Sebenarnya saya sangat amat cinta sekali Indonesia, namun saya merasa mungkin ini sudah saatnya saya mempunyai prioritas lain dalam hidup dan saya melepaskan segala sesuatu yang sudah saya tahu sebelumnya. Segala hal yang sangat saya cintai tapi untuk mengejar mimpi yang lain, yaitu saya ingin berkeluarga dan lain-lain. Tapi nyatanya, tidak semudah itu ya. Kalau misalnya saya pindah kesini untuk bekerja atau mencari pendidikan mungkin akan sangat berbeda hasilnya. Misalnya orang yang kuliah ke Amerika, dia akan dapat lingkungan baru, akan dapat teman baru, sudah tahu mau ngapain. Kalau saya disini benar-benar clueless, nyampai di Amerika, oke jadi istri, sip. Terus apa? Ya, itulah yang sedang saya cari. Prosesnya panjang teman-teman.

10. Apa yang kamu rindukan dari Indonesia?

Ini sungguh pertanyaan yang sangat menyebalkan, karena saya sangat rindu semuanya, mulai dari makanan, manggung, teman-teman, udara, kota Bandungku, pokoknya semuanyaaaaaaa! Jangan tanya lagi yaaaah!

11. Apakah Arina masih suka meditasi vipassana? Seberapa pengaruh meditasi vipassana dengan kehidupan dan proses kreatif kamu?

Aduh maaf sekali teman-teman, sejak saya di Amerika, kayaknya masih bisa dihitung dengan jari, 3 kali atau 4 kali. Karena untuk meditasi, kita harus diam, tenang, saya mempunyai masalah dengan suhu ruangan. Karena ruangannya dingin banget, jadi saya sulit untuk konsentrasi, jadi saya jarang meditasi.

Mungkin waktu saya di Indonesia, ketika saya masih rajin meditasi. Meditasi sangat membantu untuk mempunyai pikiran yang lebih jernih dan ketika untuk mencari gagasan baru atau inspirasi biasanya suka bermunculan ide-ide gila, jadi sangat membantu sih. Tapi sejak saya disini saya belum meditasi lagi, ya terima kasih atas pertanyaannya, mungkin ini saatnya saya untuk memulai kembali. Karena terus terang, si homesick yang sedang saya hadapi sekarang ini, ini kayaknya penyakit mental yang bisa mengganggu pikiran dan jiwa. Saya merasa tingkat penyakit saya ini agak lumayan berat, jadi saya banyak kehilangan motivasi untuk melakukan banyak hal dan ini yang saya hadapi sekarang.

Saya ingat banget dulu waktu di indonesia, saya orang yang sangat tertib, rajin dan tergila-gila melakukan yoga. Saya bisa yoga 5 kali dalam seminggu, bahkan dalam sehari saya bisa 2 kali. Ada beberapa hari yang pagi dan sore, saya pasti  yoga juga. Jadi kalau ditotal, dalam seminggu saya bisa yoga 9 kali. Gila yah? Sampai intrukstur saya udah cs banget dah. Pokoknya sampai kayak asisten gitu, selalu paling depan, rajin! Sekarang saya benar-benar kehilangan motivasi untuk melakukan itu. Dulu awal-awal saya sampai di Amerika, nyari info tempat yoga, disini dingin euy, males jadinya. Jarak paling deket 1,5 kilo. Ah, naik apa ya? Nyopir kagak bisa juga.

12. Who is your favorite philosopher or thinker?

Ah berat nih pertanyaanya, nanya kayak gini kasih ke mbak Dewi aja, jangan kasih ke saya. Ah nggak mau jawab, maleeeeeeees.

13. Silahkan pilih, cinta, teman atau karier?

Setelah mengalami keadaan saya sekarang, kalau dulu saya masih hidup di bandung, masih jadi penyanyi, jawaban saya gampang banget, yaitu cinta! Begitu saya di Amerika, saya sadar nggak bisa cinta doang, temen musti punya, karier juga musti ada juga. Nih, pertanyaan nggak bener nih, nggak ada yang bisa dipilih. Menurut saya ya, tiga-tiganya harus bisa berimbang dan baru akan merasa bahagia. Saya sekarang merasa timpang, ya gitu jawabannya yah.

 14.  Crayon atau pensil warna?

Pensil warna dong, bersih, banyak tekstur dan detail yang bisa saya raih lewat pensil warna.

15.   Coklat atau es krim?

Pasti coklat, saya dari kecil nggak bisa minum es, minum es dikit bisa demam. Gedean dikit, minum es bisa bikin suara hilang hehe!

16.  Amerika atau Indonesia?

Ya Indonesia dooong, dang ding dong!

17.  Big bang or a god?

Well, for my self, it’s none of them. Thank You Very Much!

 

menara logo
menara logo
menara logo