Polusi suara dan kebisingan tampaknya tak bisa lagi terelakkan, terutama di daerah perkotaan dan kawasan industri. Polusi udara ini ternyata tak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tetapi juga pada kehidupan paus di lautan.
Sama halnya dengan manusia yang harus berteriak untuk memecah kebisingan, paus pun harus berteriak agar seruannya bisa terdengar di perairan laut yang semakin bising.
Berdasarkan penelitian, paus jenis Eubalaena glacialis atau North Atlantic Right Whales harus meningkatkan volume suaranya sebagai dampak dari peningkatan kebisingan lingkungan. Pada titik tertentu, kondisi ini bisa sangat meresahkan.
"Peningkatan kebisingan laut akibat ulah kegiatan manusia menjadi perhatian bagi pihak konservasi hewan laut, khususnya paus jenis right whales," ujar Susan Parks, peneliti akustik dari Penn State University.
Menurut Parks, kemampuan mengubah vokalisasi paus dilakukan guna mengimbangi kebisingan lingkungan, yang sangat penting untuk komunikasi dalam populasi paus.
Polusi suara di lautan, sebagian besar terbentuk dua kali lipat setiap dekade atau 10 tahun. Polusi ini jelas mempengaruhi kehidupan paus, terutama yang berkaitan dengan komunikasi paus yang digunakan untuk mencari makanan dan melangsungkan proses perkawinan.
Suara paus yang disebut upcall atau contact call, yang termasuk dalam rentang gelombang ultrasonik biasanya bisa terdengar hingga ribuan kilometer.
Tapi karena semakin bisingnya lautan, paus harus berteriak dan meningkatkan amplitudo serta energi untuk dapat berkomunikasi. Hal ini akhirnya membuat paus semakin stres, karena paus harus jeli membedakan panggilan yang disuarakan paus lain.
Right whales adalah paus balin besar yang sering berenang mendekati pantai. Paus ini kaya akan lemak, perenang yang lamban dan mengapung setelah mati. Akibatnya, banyak pemburu paus yang mengincar right whales yang membuatnya semakin terancam punah. Tapi pada abad ke-20, dibuat larangan untuk pemburuan paus jenis ini.
Kini, populasi paus jenis right whales selalu dimonitor untuk menentukan kesehatan dan jumlah populasi globalnya, karena spesies paus ini sudah tergolong langka.
Berdasarkan penelitian, paus jenis Eubalaena glacialis atau North Atlantic Right Whales harus meningkatkan volume suaranya sebagai dampak dari peningkatan kebisingan lingkungan. Pada titik tertentu, kondisi ini bisa sangat meresahkan.
"Peningkatan kebisingan laut akibat ulah kegiatan manusia menjadi perhatian bagi pihak konservasi hewan laut, khususnya paus jenis right whales," ujar Susan Parks, peneliti akustik dari Penn State University.
Menurut Parks, kemampuan mengubah vokalisasi paus dilakukan guna mengimbangi kebisingan lingkungan, yang sangat penting untuk komunikasi dalam populasi paus.
Polusi suara di lautan, sebagian besar terbentuk dua kali lipat setiap dekade atau 10 tahun. Polusi ini jelas mempengaruhi kehidupan paus, terutama yang berkaitan dengan komunikasi paus yang digunakan untuk mencari makanan dan melangsungkan proses perkawinan.
Suara paus yang disebut upcall atau contact call, yang termasuk dalam rentang gelombang ultrasonik biasanya bisa terdengar hingga ribuan kilometer.
Tapi karena semakin bisingnya lautan, paus harus berteriak dan meningkatkan amplitudo serta energi untuk dapat berkomunikasi. Hal ini akhirnya membuat paus semakin stres, karena paus harus jeli membedakan panggilan yang disuarakan paus lain.
Right whales adalah paus balin besar yang sering berenang mendekati pantai. Paus ini kaya akan lemak, perenang yang lamban dan mengapung setelah mati. Akibatnya, banyak pemburu paus yang mengincar right whales yang membuatnya semakin terancam punah. Tapi pada abad ke-20, dibuat larangan untuk pemburuan paus jenis ini.
Kini, populasi paus jenis right whales selalu dimonitor untuk menentukan kesehatan dan jumlah populasi globalnya, karena spesies paus ini sudah tergolong langka.
(seperti dikutip fbifm dari detikhealth.com)





