Home » LifeStyle » Kesehatan » Anak – Anak Usia Sekolah Dasar (SD) di Indonesia Kurang Gizi

Anak – Anak Usia Sekolah Dasar (SD) di Indonesia Kurang Gizi

Sebagian besar anak-anak usia sekolah dasar (SD) di Indonesia kurang mendapatkan asupan makanan yang mengandung zat besi dan zinc. Kondisi tersebut berdampak pada ancaman penyakit seperti anemia dan terhambatnya pertumbuhan fisik/pendek (stunting).

Hal itu disampaikan oleh staf ahli dari Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia PDGMI Saptawati Bardosono saat acara media workshop PDGMI Jaya & Danone Dairy Indonesia, di Jakarta Selasa (18/10/2011).

“Anak-anak dengan jumlah konsumsi zat besi di bawah kebutuhan cenderung mengalami anemia yang dapat mengakibatkan sulit konsentrasi, mudah lelah dan lesu. Sedangkan anak-anak yang kekurangan zinc dapat menderita gangguan dalam pertumbuhan,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Saptawati, harus segera ditanggulangi khususnya mulai pada anak usia sekolah dasar, yang merupakan usia emas kedua bagi pertumbuhan anak-anak baik fisik maupun mental yang berpengaruh bagi masa depan. Kandungan zat besi pada makanan, lanjutnya, banyak terdapat pada daging merah, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta makanan yang difortifikasi (diberi tambahan vitamin dan mineral). Sedangkan zinc dapat diperoleh dengan mengonsumsi daging, keju, telur, unggas, sayuran hijau.

“Sayangnya, berdasarkan survei bagian gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), konsumsi daging dan ikan pada anak-anak sekolah hanya 10-16 persen dari porsi makan sehari-hari. Sementara berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007), 94 persen penduduk Indonesia termasuk anak-anak kurang mengonsumsi sayur dan buah-buahan,” katanya.

Anemia adalah kekurangan sel darah merah, yang ditunjukkan oleh rendahnya tingkat hemoglobin yang sehat. Tingkat hemoglobin normal pada anak lebih rendah dari tingkat hemoglobin pada orang dewasa. Bayi baru lahir memiliki hemoglobin normal 170-200 g/l. Setelah lahir, konsentrasi hemoglobin menurun drastis sehingga pada usia 2-3 bulan kadar hemoglobinnya berkisar 110-120 g/l. Kisaran ini bertahan terus hingga usia sekolah, yang meningkat menjadi 130 g/l.

Secara nasional, lanjut Saptawati, lebih dari 10 persen anak sekolah di Indonesia mengalami anemia. Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat sebagai daerah paling tinggi angka kejadian anemia pada anak, dengan persentase lebih dari 30 persen. Sedangkan status anemia terendah pada anak terdapat pada daerah Sulawesi Utara kurang dari 5 persen.

“Sulawesi Utara bisa rendah karena makanan pokok mereka bubur manado, di mana ada banyak campuran sayuran didalamnya, sehingga sedikit anak disana yang mengalami anemia,” paparnya.

Selain anemia, gangguan status gizi anak juga terlihat dengan banyaknya anak pendek di Indonesia. Bahkan menurutnya, pada 10 anak di Indonesia, sebanyak 3-4 anak di antaranya memiliki masalah pertumbuhan alias pendek. “Hal tersebut menggambarkan masalah gizi yang kronis,” jelasnya.

Hasil penelitian Departemen Gizi FKUI terhadap 661 anak di lima sekolah dasar negeri (SDN) di Jakarta Timur, tahun 2008 menunjukkan bahwa terdapat 92 % anak sekolah yang  mendapatkan asupan zat besi kurang dari rekomendasi harian. Selain itu ditemukan juga bahwa 98,6 % anak mendapat asupan zat zinc kurang dari rekomendasi harian.

Ia mengatakan, kebutuhan anak akan zat besi menjadi penting karena dapat membantu metabolisme energi, meningkatkan konsentrasi dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Sedangkan, zinc sebagai mineral penting pada sel tubuh berfungsi untuk menstimulasi 100 enzim yang mendukung reaksi biokimia dalam tubuh, meningkatkan imunitas, dan membantu kemampuan indera perasa dan penciuman.

“Kebutuhan zinc dan besi pada setiap kelompok umur berbeda-beda. Namun pada anak-anak sekolah idealnya adalah 10 mg perhari, sedangkan zinc 11 mg per hari,” tandasnya.

Leave a Reply